Headlines News :
More on this category »

Buat Buat Alumni

Written By Admin on Selasa, 03 April 2012 | 08:45

Bagi alumni dan siswa smp4baso yang masih menjadi atau akan menjadi member di group fb smp4baso online. Kalau berpartisipasi dalam website alumni agar lebih update..bisa kirim berita via E-mail dengan alamat sudah saya terakan di dokumen group FB smpn4baso...(Zgn)

Tes kirim berita lewat hp ::

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kebun Binatang Kinantan Bukittinggi

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan merupakan sebuah area rekreasi keluarga dan wisata budaya di Kota Bukittinggi yang kami kunjungi dengan berjalan kaki menyeberangi Jembatan Limpapeh, sesaat setelah selesai melihat Benteng Fort de Kock. Memasuki area Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan, akan segera terlihat sebuah kandang Gajah, serta Rumah Adat Baanjuang yang digunakan sebagai museum.

Sayang sekali mungkin karena hari sudah terlalu sore, maka Rumah Adat Baanjuang itu pintunya telah tertutup rapat ketika kami tiba di sana, sehingga hanya bisa memotret bagian luar bangunannya saja.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Pohon tua dengan jumlah cabang yang tak terhitung banyaknya, dirimbuni oleh tumbuhan lumut dan paku-pakuan, telah menarik perhatian saya ketika memasuki kawasan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Sebuah Rangkiang, lumbung padi khas suku Minangkabau, serta patung beberapa orang gadis yang tengah menumbuk padi, terdapat di depan Museum Rumah Adat Baanjuang di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Bangunan Museum Rumah Adat Baanjuang di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan, dilihat dari sisi sebelah kanan, dengan tiang-tiang kayu tinggi penyangga bangunan rumah panggung, yang dinding luarnya dipenuhi dengan detail ornamen indah, serta bentuk atap meruncing tinggi menusuk langit.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Pintu masuk ke dalam Museum Rumah Adat Baanjuang di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Museum ini didirikan pada 1 Juli 1935 dengan nama Mondelar, dan kemudian mengalami perubahan nama beberapa kali menjadi Museum Baanjuang, Museum Bundo Kanduang dan baru pada tahun 2005 berubah namanya manjadi Museum Rumah Adat Baanjuang.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Sebuah bangunan adat kecil di sebelah kanan Museum Rumah Adat Baanjuang di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan telah menarik perhatian saya untuk mendekatinya. Sebuah benda bulat ada di tengahnya yang dari jauh tampak seperti terbuat dari logam.
Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Apa yang tampak seperti logam di mata saya, ternyata bulatan kulit lembu yang menjadi ujung sebuah bedug berukuran sangat panjang, yang baru pernah saya lihat di sini.
Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Dua buah rangkiang yang berada di depan Museum Rumah Adat Baanjuang di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan itu bernama Sibayau-Bayang dan Sitinjau Lauik. Jika ingin masuk ke museum ini pengunjung cukup membayar Rp. 1.000 untuk melihat koleksi museum yang dibagi ke dalam kelompok etnografi, numismatik, dan biologi.
Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Dua ekor gajah koleksi Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan yang keduanya dirantai kakinya dengan ketat. Gajah-gajah ini kabarnya memang tidak begitu jinak, dan kadang menyerang petugas pembersih sampai menimbulkan luka yang cukup serius.
Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Sekelompok Rusa Totol koleksi Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Jenis Rusa Totol berbulu dan bertanduk indah ini jumlahnya cukup banyak di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan.
Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Binatang gurun pasir pun bisa dijumpai di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini.
Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Seekor anak kijang, dan seekor binatang lain yang tidak diketahui namanya, Koleksi Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan.
Kompleks ini dibangun tahun 1900 oleh Controleur Strom Van Govent sebagai kebun bunga yang dinamai Kebun Bunga “Strom Park”. Pada tahun 1929 area ini dijadikan kebun binatang oleh Dr. J. Hock, seorang dokter hewan, dan menjadi satu-satunya kebun binatang di Sumatera Barat.
Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Gerbang masuk ke dalam Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan yang diakses melalui Jalan Cindur Mato, Pasar Atas, dan sekaligus sebagai gerbang keluar jika kita masuk melalui kawasan Benteng Fort de Kock.
Jika kita memiliki cukup banyak waktu, Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini cocok untuk dinikmati sambil berjalan santai di pagi atau sore hari, sambil menikmati pemandangan Kota Bukittinggi di pagi dan senja hari, dengan silir hawa perbukitan yang sejuk dingin.

Pesona Wisata di Bukittinggi

Foto Jam Gadang
KOTA  Bukittinggi adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota ini sebelumnya disebut dengan Fort de Kock dan dahulunya pernah juga dijuluki sebagai Paris van Sumatra selain kota Medan, dan kota Bukittinggi juga pernah menjadi ibu kota negara Indonesia.

Kota ini merupakan kota kelahiran salah seorang Proklamator RI yaitu Bung Hatta, disebut juga sebagai kota pusaka dengan Jam Gadang, yaitu sebuah landmark di ketinggian jantung kota, berbentuk jam besar mirip Big Ben, sekaligus menjadi simbol bagi kota yang juga berada pada tepi sebuah lembah yang bernama Ngarai Sianok.

Selain itu kota Bukittinggi juga terkenal sebagai kota wisata yang berhawa sejuk, dan bersaudara (sister city) dengan Seremban dari Negeri Sembilan di Malaysia.

Selain itu juga mempunyai tempat terindah. Nah Ini tempat yang anda harus sambangi:

Jam Gadang
Jam Gadang adalah sebutan bagi sebuah menara jam yang terletak di jantung Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat. Jam Gadang adalah sebutan yang diberikan masyarakat Minangkabau kepada bangunan menara jam itu, karena memang menara itu mempunyai jam yang "gadang", atau "jam yang besar" (jam gadang=jam besar; "gadang" berarti besar dalam bahasa Minangkabau).

Sedemikian fenomenalnya bangunan menara jam bernama Jam Gadang itu pada waktu dibangun, sehingga sejak berdirinya Jam Gadang telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang dijadikan penanda atau markah tanah Kota Bukittinggi dan juga sebagai salah satu ikon provinsi Sumatera Barat.

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan Gigi Ameh. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur (Sekretaris Kota) Bukittinggi pada masa Pemerintahan Hindia Belanda dulu. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun.

Denah dasar (bangunan tapak berikut tangga yang menghadap ke arah Pasar Atas) dari Jam Gadang ini adalah 13x4 meter, sedangkan tingginya 26 meter.

Jam Gadang ini bergerak secara mekanik dan terdiri dari empat buah jam/empat muka jam yang menghadap ke empat arah penjuru mata angin dengan setiap muka jam berdiameter 80 cm.

Menara jam ini telah mengalami beberapa kali perubahan bentuk pada bagian puncaknya. Pada awalnya puncak menara jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Saat masuk menjajah Indonesia, pemerintahan pendudukan Jepang mengubah puncak itu menjadi berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.

Pembangunan Jam Gadang ini konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Namun hal itu terbayar dengan terkenalnya Jam Gadang ini sebagai markah tanah yang sekaligus menjadi lambang atau ikon Kota Bukittinggi. Jam Gadang juga ditetapkan sebagai titik nol Kota Bukittinggi.

Ada satu keunikan dari angka-angka Romawi pada muka Jam Gadang ini. Bila penulisan angka Romawi biasanya mencantumkan simbol "IV" untuk melambangkan angka empat romawi, maka Jam Gadang ini bertuliskan angka empat romawi dengan simbol "IIII" (umumnya IV).

Ngarai Sianok
Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan kota Bukittinggi, dengan Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai di Ngarai Sianok Enam Suku, dan berakhir sampai Palupuh. Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang indah dan menjadi salah satu objek wisata utama provinsi.

Jurang ini dalamnya sekitar 100 m membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan Pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (Patahan Semangko). Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau - hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal) - yang dialiri Batang Sianok (batang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih. Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai.

Batang Sianok kini bisa diarungi dengan menggunakan kano dan kayak yg disaranai oleh suatu organisasi olahraga air "Qurays". Rute yang ditempuh adalah dari Desa Lambah sampai Desa Sitingkai Batang Palupuh selama kira-kira 3,5 jam. Di tepiannya masih banyak dijumpai tumbuhan langka seperti rafflesia dan tumbuhan obat-obatan. Fauna yang dijumpai misalnya monyet ekor panjang, siamang, simpai, rusa, babi hutan, macan tutul, serta tapir.

Lobang Jepang
Lobang Jepang merupakan salah satu objek pelancongan yang ada dalam Kota Bukittinggi dan merupakan peninggalan sejarah dari kependudukan Jepang selama berada di Bukittinggi.

Karena Bukittinggi yang sangat strategis, terletak di tengah - tengah Pulau Sumatera, maka penjajah Jepang menetapkan Kota Bukittinggi sebagai Pusat Komando Pertahanan Tentara Jepang di Sumatera (Seiko Sikikan Kakka) yang dipimpin oleh Jenderal Watanabe.

Sebagai kubu pertahanan militer bagi Jepang dibuatlah terowongan dibawah jantung kota Bukittinggi, disamping berfungsi sebagai pertahanan juga dipersiapkan sebagai penyimpan amunisi, barak, ruang makan, rumah sakit, ruang sidang dan dapur, yang jumlah keseluruhan ruangan 27 buah dan merupakan satu komplek lengkap, seperti denah yang dapat dilihat pada dinding pintu masuk.

Panjang lobang yang terdapat dilokasi Panorama ini lebih kurang 1400 meter, sedangkan panjang keseluruhan yang berada di bawah Kota Bukittinggi diperkirakan lebih kurang sekitar 5000 meter, dengan demikian yang terawat/terpelihara baru 30% dari lobang yang ada.

Kegunaan utama dari Lobang Jepang ini adalah sebagai basis pertahanan militer penjajah Jepang dari serangan Sekutu maka pembangunannya sangat dirahasiakan, dan tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti kapan lobang jepang ini mulai dibangun. Hanya dapat diperkirakan beberapa bulan sesudah Maret 1942, saat Jepang merebut Kota Bukittinggi dari tangan Pemerintah Belanda.

Tenaga kerja kasar untuk mengali Lobang ini diambil dari orang - orang Indonesia yang ditangkap dari daerah lain, seperti dari pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera Selatan dan lain sebagainya, sedangkan hasil tangkapan dari Bukittinggi sendiri di bawa pula ke daetrah lain untuk dipekerja paksakan pula pada proyek - proyek lainnya, seperti le Loge untuk m,embuat jalan kereta api yang akan menghubungkan Muaro Sijunjung dengan Pekanbaru Riau. Namun pekerjaan ini tidak kunjung slesai, karena Jepang keburu kalah ditangan tentara Sekutu.

Tenaga teknis dalam pembangunan Lobang ini diambilkan dari orang - orang Indonesia yang bekerja di Tambang Batu bara Ombilin Sawahlunto yang berasal dari pulau Jawa.

Semua tenaga kerja kasar tidak sati orangpun yang dapat menyelamatkan diri, semuanya meningal disebabkan kekurangan makanan dan siksaan dari tentara Jepang. sehingga kerahasiaan Lobang tetap terpelihara.

Sekalipun Lobang ini dapat diselesaikan, namun belum sempat dimanfaatkan secara sempurna, karena Jepang keburu bertekuk lutut kepada tentara Sekutu akibat Dua Buah Atom yang dijatuhkan Tentara Sekutu di Kota Nagasaki dan Hirosima pada tanggal 7 dan 8 Agustus 1945, dan berlanjut dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno - Hatta.

Saat ini Lobang Jepang ini cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan baik Mancanegara maupun Nusantara dan merupakan objek wisata favorite di Bukittinggi dan bahkan Sumatera Barat.

Kondisi dalam terowongan
Dari pintu gerbang, kita menurunbi anak tangga sebanyak 135 buah, apabila anak tangga ini tingginya rata - rata 20 cm, dengan demikian 135 anak tangga berarti kita telah turun setinggi 27 M. jika kita bandingkan lagi tempat kita berdiri sekarang dengan jalan yang ada diatas kita, mempunyai perbedaan tinggi lebih kurang 5 M. dari perhitungan ini diketahuilah bahwa dasar Lobang berkisar antara 30 sampai 40 M dari permukaan tanah. Kedalaman ini sudah cukup aman dinilai oleh Jepang terhadap serangan udara dari Tentara Sekutu.

Hatrick Hero Lionel Messi yang Menakjubkan


Taukah anda semua pemain terbaik dunia Leonel Messi 2009-2010 tersebut mencetak gol dalam sekali tendangan dalam partai persahabatan antara Amerika Serikat vs Argerntina (27/3) gol tersebut sungguh menabjubkan  seakan-akan sang pemain terbaik dunia ini mempunyai kekuatan supra natural dalam hal urusan mencetak gol. hal tersebut terjadi pada saat sesi Latihan.

Bagi Football lovers atau penggemar berat Leonel messi dapat melihat video nya di links youtube berikut ini:

Clik link dibawah ini:
http://www.youtube.com/watch?v=kMSFkGYdooo&feature=player_embedded

Reinkarnasi Sawahlunto, Cahaya Baru Sumatera Barat

Written By Admin on Sabtu, 18 Februari 2012 | 07:53


Sawahlunto ndeh kanduang oi, kota idaman
Dilingkuang bukik sarek jo batu baro, kotanyo kota kuali
Malam bakilau bak intan
Indahnyo mari sajo kito liek basamo 2x
Kuniang rancak ndeh kanduang oi, gadih Silungkang
Kain tanun jo songketnyo lah tanamo
Malam jadi buah mimpi, siangnyo tabayang-bayang
Hati denai alah tapauik ka Sawahlunto 2x
Penggalan lirik lagu “Sawahlunto Kota Idaman” tersebut adalah gambaran tentang bagaimana kondisi Sawahlunto saat ini.
Kota Sawahlunto terletak sekitar 95 km dari Padang, ibukota Provinsi Sumatera Barat dan secara astronomis berada pada 0’.34 – 0’.46 Lintang Selatan dan 100’.41 – 100’.49 Bujur Timur. Hal itu menunjukkan bahwa Sawahlunto terletak di daerah dataran tinggi pada bagian tengah Bukit Barisan, pegunungan yang membujur sepanjang pulau Sumatera.
Sedikit mengolah sejarah, Sawahlunto dahulunya adalah kota dengan pemasok batubara terbesar di Indonesia. Dengan adanya penambangan batubara di kota ini, maka jalur kereta api sebagai penghubung vital pun dibuat hingga mampu membawa hasil tambang ke pelabuhan teluk bayur yang ada di Padang. Akibatnya, pelabuhan teluk bayur pun hidup dan menjadi tempat tunggal transit batubara, dengan hidupnya pelabuhan itu banyak masyarakat yang menggantungkan perekonomiannya disekitar tempat tersebut, hingga dampak positif yang terbesar adalah berdirinya PT. Semen Padang pada tahun 1910. Perusahan tersebut berdiri dilatar belakangi karena adanya ekspor batubara dari Sawahlunto yang digunakan sebagai bahan bakar pokok untuk membuat semen. Empat aspek tersebut, mulai dari batubara yang ada di kota Sawahlunto, jalur kereta api, pelabuhan teluk bayur, dan PT. Semen Padang merupakan tampuk perekonomian yang sangat dibanggakan dan diandalkan oleh Sumatera Barat kala itu.
Namun seiring berjalannya waktu, kejayaan batubara di Sawahlunto mulai mengalami kemorosotan, sumber daya alam irrevesible ini sudah mencapai puncaknya dan mulai melangka di kota Sawahlunto. Hingga akhirnya persediaan mutiara hitam itu benar-benar menipis. Dan ini spontan membuat kehidupan kota Sawahlunto terguncang, masyarakat mulai kehilangan pekerjaannya, pekerja tambang banyak dimutasi ke daerah lain dan demo kerap kali terjadi karena ketidakstabilan harga barang di pasar. Keadaan sungguh sangat genting, cahaya kehidupan di kota ini tinggal remang-remang, jika kala itu pemerintah salah mengambil tindakan maka nama Kota Sawahlunto tidak akan ada lagi, sebab akan dimasukkan ke dalam kawasan Kabupaten Sijunjung.
Tapi Tuhan berkehendak lain, jalan untuk Sawahlunto tetap berdiri masih ada, yakni dengan munculnya gagasan baru dari pemerintah kota untuk menjadikan Sawahlunto sebagai kota wisata dengan memanfaatkan daerah bekas tambang yang ada. Ide itu adalah hawa surga yang telah dihembuskan ke dalam tarikan nafas kota Sawahlunto, yang dulu bisa dikatakan sebagai kota mati kini berenkarnasi kembali. Dan kehidupan barupun dimulai, dengan harapan agar tetap bisa menjadi kebanggaan Sumatera Barat.
Diera globalisasi ini perbincangan tentang pariwisata semakin membuming, bahkan income yang dijanjikan dari bidang itu kebanyakan melebihi income yang dihasilkan industri. Dan tak salah bila Sumatera Barat juga mengimpikan hal itu terjadi. Dan jika itu benar bisa terwujud maka akan timbul asumsi klasik yakni, pasti akan memberikan pemasukan yang besar dan pasti mampu menyejahterakan rakyat. Sebenarnya jika kita membuka mata lebar-lebar banyak potensi pariwisata yang bisa dibina dan dikembangkan, contohnya saja Sawahlunto yang saat ini telah hijrah kedunia pariwisata.
Maka, jika bicara tentang potensi pariwisata Sumbar, kota Sawahlunto merupakan aset baru yang dapat dibina dan dikembangkan menjadi kota wisata, mengingat banyaknya potensi yang Sawahlunto miliki untuk menjadi kota wisata tambang pasca habisnya pertambangan batubara di kota arang ini. Sesuai dengan visi kota yakni, “Sawahlunto Kota Wisata Tambang yang Berbudaya tahun 2020” maka pemerintah telah berupaya sekuat tenaga untuk mewujudkan visi tersebut, dengan APBD yang ada berbagai pembangunan untuk membuat atau memperbaiki tempat wisata telah dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar sarana dan prasarana baik penting maupun pendukung dapat membantu lancarnya pembangunan Sawahlunto sebagai kota wisata tambang.
Peluang untuk membuat Sawahlunto itu dikenal oleh masyarakat luar sangatlah besar, hal ini bisa dibuktikan dari banyaknya tempat wisata tambang yang ada di Sawahlunto, bangunan-bangunan tua ala Belanda yang menambah suasana khas kota lama, dan acara tahunan yang diadakan oleh pemerintah seperti perayaan ulang tahun kota. Jika semua itu diupayakan dengan optimal, maka tidak diragukan lagi nama Sawahlunto akan cepat merebak dan orang pasti banyak yang akan tahu.
Kini mimpi buruk Sawahlunto yang akan diambil daerah lain telah berakhir, jalan barupun juga telah terkembang dihadapan, tinggal bagaimana caranya untuk menapaki itu semua. Kekompakkan dan kepedulian adalah kunci pertama untuk mempermulus perjalanan, membuat jarak dekat dan menyingkirkan kerikil penghambat.
Kota yang terkenal dengan sebutan kota kuali ini punya sesuatu yang berharga dan patut untuk diperhitungkan. Dan jika Sawahlunto ingin menjadi kebanggaan Sumatera Barat, maka pemberdayaan Sawahlunto sebagai kota wisata harus ditinjau dari segala aspek dan semua lapisan masyarakat.
Yang pertama dari segi agama, perwujudan Sawahlunto sebagai kota wisata haruslah berdasarkan hukum-hukum yang telah ada dan tidak melanggar aturan agama yang berlaku. Apalagi Sawahlunto merupakan wilayah Minangkabau yang terkenal dengan adat dan agamanya yang kental, yang membatasi baik dan buruk serta benar dan salahnya suatu hal. Selamjutnya, perwujudan Sawahlunto sebagai kota wisata harus tetap dalam rambu-rambu norma yang ada, dan tidak menjadikan tempat-tempat wisata yang ada sebagai ladang maksiat. Sebab Sawahlunto bukanlah tempat sembarangan, dan tempat wisata yang adapun harus berbasis karakter (yang saat ini sedang hangat-hangatnya dikembangkan di Sawahlunto).
Juga tak terlepas dari nilai pendidikan dan sosial, diharapkan dengan berkembangnya Sawahlunto menjadi kota wisata maka masyarakat kota maupun pendatang dapat menjalin hubungan harmonis, serta para pelajar kota agar mampu mengharumkan nama kota Sawahlunto dan merasa bangga dengan kotanya sendiri. Dan yang pasti dengan berhasilnya cita-cita ini maka kehidupan perekonomian Sawahlunto akan kembali jaya dan mampu mengeluarkan masyarakat dari belenggu kekurangan.
Seperti yang telah disinggung di atas, kerja sama dan kepedulian semua lapisan masyarakat juga sangat berpengaruh besar bagi kemajuan pariwisata Sawahlunto. Sebab mana mungkin perubahan bisa terjadi di Sawahlunto kalau seandainya tidak ada kekompakkan antara semua pihak?.
Poin pertama yakni, sebagai pemegang tampuk kekuasaan sudah seharusnya pemerintah menjadi pengayom dan penggerak yang membangkitkan kepedulian masyarakat hingga keharmonisan itu dapat terjalin. Sejauh ini, hal tersebut memang telah dilaksanakan di Sawahlunto. Terbukti dari adanya persetujuan masyarakat tentang masalah kepemilikan lahan yang bersedia diambil untuk kepentingan pembangunan. Hingga semua proses pembangunan dapat dijalankan dengan lancar tanpa ada protes aksi anarkis yang kerap kali terjadi di kota-kota besar. Kepedulian akan keberlangsungan kehidupan Sawahlunto membuat masyarakat kota membuka pikiran untuk andil dalam upaya pembangunan ini.
Terakhir, tercapainya cita-cita Sawahlunto menjadi kota wisata tak terlepas dari peran penting pelajar Sawahlunto, baik itu pelajar yang ada di Sawahlunto maupun pelajar Sawahlunto yang menimba ilmu diluar (dengan tujuan untuk membangun kota sekembalinya dari luar). Dapat kita lihat saat ini, bahwa kebanyakan acara hiburan yang diadakan di Sawahlunto hampir 85% pelaksananya adalah pelajar. Itu menggambarkan bahwa antusias dan kepedulian pelajar besar terhadap perkembangan dan potensi kota mereka. Disamping itu, program Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto yang setiap tahunnya mengirim pelajar dan pemuda ke luar negri seperti Malaysia dan Singapore dengan tujuan memperkenalkan budaya yang ada di Sawahlunto mendapat dukungan penuh dari banyak pihak. Sebagai imbasnya siswa-siswi luar negeri pun berdatangan mengunjungi Sawahlunto. Dan ikatan itu dijalin demi terwujudnya visi kota.
Bukanlah suatu hal yang sulit, jika kita ingin mewujudkan impian itu dengan cepat. Sebab, kesempatan itu akan selalu ada apabila kita mampu memanfaatkan peluang dengan tepat. Ibarat perhiasan Sawahlunto adalah bongkahan intan yang masih tenggelam di dalam lumpur yang apabila berhasil ditemukan sinarnya dapat menjadi energi baru bagi Sumbar.
Sedikit gambaran, di Sawahlunto ada beberapa tempat wisata yang telah banyak diminati yang diantaranya Kebun Binatang Kandi, Loebang Mbah Soero, Puncak Polan, Puncak Cemara yang merupakan tempat wisata alam, Museum Goedang Ransoem dan Museum Kereta Api yang merupakan tempat wisata sejarahnya, Water Bomm tempat pemandiannya, Lapang Segitiga aluu-alun sorenya dan lain sebagainya. Hingga saat ini pembangunan terus dilakukan demi kepuasan dan kenyamanan pengunjung. Dan yang sedang dinanti oleh masyarakat adalah berdirinya Dream Land sebuah tempat permainan akbar layaknya Dufan yang ada di Jakarta.
Potensi baru pariwisata yang ada di Sumbar ini adalah investasi mahal dimasa yang akan datang, yang jika dimanfaatkan dengan baik mampu menjadikan masyarakat Sawahlunto menjadi masyarakat madani dan membuat Sumbar menjadi lebih gemilang. Karena keberhasilan menggapai cita-cita bukanlah impian Sawahlunto lagi, tapi merupakan hak bagi Sawahlunto. Sumber http://kgtk.wordpress.com/

Kelompok Dasawisma Bouginvelle Baso Maju Ke Tingkat Propinsi


Kelompok Dasawisma Bougenville Nagari Simarasok mewakili Kabupaten Agam ke tingkat propinsi, karena kelompok Dasawisma yang digerakan para ibu- ibu melalui wadah PKK cukup berhasil dalam mengajak masyarakat untuk berpartisipasi melaksanakan 10 Program pokok PKK.
  
Hal itu diungkapkan oleh Indra Catri Dt.Malako Nan Putiah dalam menyambut Tim Penilai Kelompok Dasawisma dari Propinsi di SD Negeri 03  Sungai Angek Nagari Simarosok Kecamatan Baso beberapa hari yang lalu.
Bupati menambahkan Manfaat kelompok Dasawisma cukup banyak, salah satu diantaranya merajut hubungan rasa kekeluargaan sesama tetangga, sebab apapun yang terjadi lebih cepat memberikan bantuan, apakah itu berupa bantuan moril dan materil. Tentunya kedepan kegiatan yang dilakukan kelompok Dasawisma Bougenville lebih ditingkatkan.
Ny. Roswati Muslim selaku Ketua TP PKK Kecamatan Baso melaporkan Nagari Simarasok mempunyai  kelompok Dasawisma Bougenville Sungai Angek diketuai Ny.Zulfahmi dinilai cukup berhasil dalam melaksanakan berbagai program diantaranya sektor pendidikan, Majelis Taklim, lingkungan hidup, kesehatan, pertanian, kelompok simpan pinjam dan lainnya.
Kelompok Dasawisma Bougeville Sungai Angek Nagari Simarasok Kecamatan Baso Kabupaten Agam maju ke lomba Dasawisma tingkat Provinsi Sumatera Barat. Tim penilai yang diketuai Ny. Hj. Asnita Ali Asmar itu disambut meriah dengan kesenian rebana Majelis Taklim, ungkap Ny.Roswati.
Selesai ekspos di SD Negeri 03 Sungai Angek, rombongan tim penilai lomba Dasawisma tingkat Provinsi itu diketuai Ny. Hj. Anita Ali Asmar didampingi Ketua TP. PKK Kabupaten Agam Ny. Vita Indra Catri meninjau lokasi kelompok Dasawisma Bougenville, diantaranya rumah sehat, kebun kelompok Dasawisma dan mengunjungi lokasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Pelita Hati.
Hadir menyambut Tim Penilai pada acara itu mendampinggi Bupati Agam, Ketua TP PKK Kabupaten Agam Ny. Vita Indra Catri, Camat Baso I Putu Venda, Wali nagari Simarasok Muslim Dt Payuang Diaceh serta anggota PKK se Kecamatan Baso.
Sumber : Bagian Humas Setda Agam
Kelompok Dasawisma Bougenville Nagari Simarasok mewakili Kabupaten Agam ke tingkat propinsi, karena kelompok Dasawisma yang digerakan para ibu- ibu melalui wadah PKK cukup berhasil dalam mengajak masyarakat untuk berpartisipasi melaksanakan 10 Program pokok PKK.  Hal itu diungkapkan oleh Indra Catri Dt.Malako Nan Putiah dalam menyambut Tim Penilai Kelompok Dasawisma dari Propinsi di SD Negeri 03  Sungai Angek Nagari Simarosok Kecamatan Baso beberapa hari yang lalu.
Bupati menambahkan Manfaat kelompok Dasawisma cukup banyak, salah satu diantaranya merajut hubungan rasa kekeluargaan sesama tetangga, sebab apapun yang terjadi lebih cepat memberikan bantuan, apakah itu berupa bantuan moril dan materil. Tentunya kedepan kegiatan yang dilakukan kelompok Dasawisma Bougenville lebih ditingkatkan.
Ny. Roswati Muslim selaku Ketua TP PKK Kecamatan Baso melaporkan Nagari Simarasok mempunyai  kelompok Dasawisma Bougenville Sungai Angek diketuai Ny.Zulfahmi dinilai cukup berhasil dalam melaksanakan berbagai program diantaranya sektor pendidikan, Majelis Taklim, lingkungan hidup, kesehatan, pertanian, kelompok simpan pinjam dan lainnya.
Kelompok Dasawisma Bougeville Sungai Angek Nagari Simarasok Kecamatan Baso Kabupaten Agam maju ke lomba Dasawisma tingkat Provinsi Sumatera Barat. Tim penilai yang diketuai Ny. Hj. Asnita Ali Asmar itu disambut meriah dengan kesenian rebana Majelis Taklim, ungkap Ny.Roswati.
Selesai ekspos di SD Negeri 03 Sungai Angek, rombongan tim penilai lomba Dasawisma tingkat Provinsi itu diketuai Ny. Hj. Anita Ali Asmar didampingi Ketua TP. PKK Kabupaten Agam Ny. Vita Indra Catri meninjau lokasi kelompok Dasawisma Bougenville, diantaranya rumah sehat, kebun kelompok Dasawisma dan mengunjungi lokasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Pelita Hati.
Hadir menyambut Tim Penilai pada acara itu mendampinggi Bupati Agam, Ketua TP PKK Kabupaten Agam Ny. Vita Indra Catri, Camat Baso I Putu Venda, Wali nagari Simarasok Muslim Dt Payuang Diaceh serta anggota PKK se Kecamatan Baso. Sumber Agam go.id

Berita Terbaru


KAULA MUDA

More on this category »

WISATA

More on this category »
 
Address : Jln. Raya Baso -Batu Sangkar KM 04, Kecamatan Baso Kabupaten Agam
Copyright © 2012. SMPN 4 Baso Online - All Rights Reserved
Web Desainer by Creatingwebsite
Proudly powered by Blogger