Sawahlunto ndeh kanduang oi, kota idaman
Dilingkuang bukik sarek jo batu baro, kotanyo kota kuali
Malam bakilau bak intan
Indahnyo mari sajo kito liek basamo 2x
Kuniang rancak ndeh kanduang oi, gadih Silungkang
Kain tanun jo songketnyo lah tanamo
Malam jadi buah mimpi, siangnyo tabayang-bayang
Hati denai alah tapauik ka Sawahlunto 2x
Dilingkuang bukik sarek jo batu baro, kotanyo kota kuali
Malam bakilau bak intan
Indahnyo mari sajo kito liek basamo 2x
Kuniang rancak ndeh kanduang oi, gadih Silungkang
Kain tanun jo songketnyo lah tanamo
Malam jadi buah mimpi, siangnyo tabayang-bayang
Hati denai alah tapauik ka Sawahlunto 2x
Penggalan lirik lagu “Sawahlunto Kota Idaman” tersebut adalah gambaran tentang bagaimana kondisi Sawahlunto saat ini.
Kota Sawahlunto terletak sekitar 95 km dari Padang, ibukota Provinsi
Sumatera Barat dan secara astronomis berada pada 0’.34 – 0’.46 Lintang
Selatan dan 100’.41 – 100’.49 Bujur Timur. Hal itu menunjukkan bahwa
Sawahlunto terletak di daerah dataran tinggi pada bagian tengah Bukit
Barisan, pegunungan yang membujur sepanjang pulau Sumatera.
Sedikit mengolah sejarah, Sawahlunto dahulunya adalah kota dengan
pemasok batubara terbesar di Indonesia. Dengan adanya penambangan
batubara di kota ini, maka jalur kereta api sebagai penghubung vital pun
dibuat hingga mampu membawa hasil tambang ke pelabuhan teluk bayur yang
ada di Padang. Akibatnya, pelabuhan teluk bayur pun hidup dan menjadi
tempat tunggal transit batubara, dengan hidupnya pelabuhan itu banyak
masyarakat yang menggantungkan perekonomiannya disekitar tempat
tersebut, hingga dampak positif yang terbesar adalah berdirinya PT.
Semen Padang pada tahun 1910. Perusahan tersebut berdiri dilatar
belakangi karena adanya ekspor batubara dari Sawahlunto yang digunakan
sebagai bahan bakar pokok untuk membuat semen. Empat aspek tersebut,
mulai dari batubara yang ada di kota Sawahlunto, jalur kereta api,
pelabuhan teluk bayur, dan PT. Semen Padang merupakan tampuk
perekonomian yang sangat dibanggakan dan diandalkan oleh Sumatera Barat
kala itu.
Namun seiring berjalannya waktu, kejayaan batubara di Sawahlunto
mulai mengalami kemorosotan, sumber daya alam irrevesible ini sudah
mencapai puncaknya dan mulai melangka di kota Sawahlunto. Hingga
akhirnya persediaan mutiara hitam itu benar-benar menipis. Dan ini
spontan membuat kehidupan kota Sawahlunto terguncang, masyarakat mulai
kehilangan pekerjaannya, pekerja tambang banyak dimutasi ke daerah lain
dan demo kerap kali terjadi karena ketidakstabilan harga barang di
pasar. Keadaan sungguh sangat genting, cahaya kehidupan di kota ini
tinggal remang-remang, jika kala itu pemerintah salah mengambil tindakan
maka nama Kota Sawahlunto tidak akan ada lagi, sebab akan dimasukkan ke
dalam kawasan Kabupaten Sijunjung.
Tapi Tuhan berkehendak lain, jalan untuk Sawahlunto tetap berdiri
masih ada, yakni dengan munculnya gagasan baru dari pemerintah kota
untuk menjadikan Sawahlunto sebagai kota wisata dengan memanfaatkan
daerah bekas tambang yang ada. Ide itu adalah hawa surga yang telah
dihembuskan ke dalam tarikan nafas kota Sawahlunto, yang dulu bisa
dikatakan sebagai kota mati kini berenkarnasi kembali. Dan kehidupan
barupun dimulai, dengan harapan agar tetap bisa menjadi kebanggaan
Sumatera Barat.
Diera globalisasi ini perbincangan tentang pariwisata semakin
membuming, bahkan income yang dijanjikan dari bidang itu kebanyakan
melebihi income yang dihasilkan industri. Dan tak salah bila Sumatera
Barat juga mengimpikan hal itu terjadi. Dan jika itu benar bisa terwujud
maka akan timbul asumsi klasik yakni, pasti akan memberikan pemasukan
yang besar dan pasti mampu menyejahterakan rakyat. Sebenarnya jika kita
membuka mata lebar-lebar banyak potensi pariwisata yang bisa dibina dan
dikembangkan, contohnya saja Sawahlunto yang saat ini telah hijrah
kedunia pariwisata.
Maka, jika bicara tentang potensi pariwisata Sumbar, kota Sawahlunto
merupakan aset baru yang dapat dibina dan dikembangkan menjadi kota
wisata, mengingat banyaknya potensi yang Sawahlunto miliki untuk menjadi
kota wisata tambang pasca habisnya pertambangan batubara di kota arang
ini. Sesuai dengan visi kota yakni, “Sawahlunto Kota Wisata Tambang yang
Berbudaya tahun 2020” maka pemerintah telah berupaya sekuat tenaga
untuk mewujudkan visi tersebut, dengan APBD yang ada berbagai
pembangunan untuk membuat atau memperbaiki tempat wisata telah
dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar sarana dan prasarana baik penting
maupun pendukung dapat membantu lancarnya pembangunan Sawahlunto sebagai
kota wisata tambang.
Peluang untuk membuat Sawahlunto itu dikenal oleh masyarakat luar
sangatlah besar, hal ini bisa dibuktikan dari banyaknya tempat wisata
tambang yang ada di Sawahlunto, bangunan-bangunan tua ala Belanda yang
menambah suasana khas kota lama, dan acara tahunan yang diadakan oleh
pemerintah seperti perayaan ulang tahun kota. Jika semua itu diupayakan
dengan optimal, maka tidak diragukan lagi nama Sawahlunto akan cepat
merebak dan orang pasti banyak yang akan tahu.
Kini mimpi buruk Sawahlunto yang akan diambil daerah lain telah
berakhir, jalan barupun juga telah terkembang dihadapan, tinggal
bagaimana caranya untuk menapaki itu semua. Kekompakkan dan kepedulian
adalah kunci pertama untuk mempermulus perjalanan, membuat jarak dekat
dan menyingkirkan kerikil penghambat.
Kota yang terkenal dengan sebutan kota kuali ini punya sesuatu yang
berharga dan patut untuk diperhitungkan. Dan jika Sawahlunto ingin
menjadi kebanggaan Sumatera Barat, maka pemberdayaan Sawahlunto sebagai
kota wisata harus ditinjau dari segala aspek dan semua lapisan
masyarakat.
Yang pertama dari segi agama, perwujudan Sawahlunto sebagai kota
wisata haruslah berdasarkan hukum-hukum yang telah ada dan tidak
melanggar aturan agama yang berlaku. Apalagi Sawahlunto merupakan
wilayah Minangkabau yang terkenal dengan adat dan agamanya yang kental,
yang membatasi baik dan buruk serta benar dan salahnya suatu hal.
Selamjutnya, perwujudan Sawahlunto sebagai kota wisata harus tetap dalam
rambu-rambu norma yang ada, dan tidak menjadikan tempat-tempat wisata
yang ada sebagai ladang maksiat. Sebab Sawahlunto bukanlah tempat
sembarangan, dan tempat wisata yang adapun harus berbasis karakter (yang
saat ini sedang hangat-hangatnya dikembangkan di Sawahlunto).
Juga tak terlepas dari nilai pendidikan dan sosial, diharapkan dengan
berkembangnya Sawahlunto menjadi kota wisata maka masyarakat kota
maupun pendatang dapat menjalin hubungan harmonis, serta para pelajar
kota agar mampu mengharumkan nama kota Sawahlunto dan merasa bangga
dengan kotanya sendiri. Dan yang pasti dengan berhasilnya cita-cita ini
maka kehidupan perekonomian Sawahlunto akan kembali jaya dan mampu
mengeluarkan masyarakat dari belenggu kekurangan.
Seperti yang telah disinggung di atas, kerja sama dan kepedulian
semua lapisan masyarakat juga sangat berpengaruh besar bagi kemajuan
pariwisata Sawahlunto. Sebab mana mungkin perubahan bisa terjadi di
Sawahlunto kalau seandainya tidak ada kekompakkan antara semua pihak?.
Poin pertama yakni, sebagai pemegang tampuk kekuasaan sudah
seharusnya pemerintah menjadi pengayom dan penggerak yang membangkitkan
kepedulian masyarakat hingga keharmonisan itu dapat terjalin. Sejauh
ini, hal tersebut memang telah dilaksanakan di Sawahlunto. Terbukti dari
adanya persetujuan masyarakat tentang masalah kepemilikan lahan yang
bersedia diambil untuk kepentingan pembangunan. Hingga semua proses
pembangunan dapat dijalankan dengan lancar tanpa ada protes aksi anarkis
yang kerap kali terjadi di kota-kota besar. Kepedulian akan
keberlangsungan kehidupan Sawahlunto membuat masyarakat kota membuka
pikiran untuk andil dalam upaya pembangunan ini.
Terakhir, tercapainya cita-cita Sawahlunto menjadi kota wisata tak
terlepas dari peran penting pelajar Sawahlunto, baik itu pelajar yang
ada di Sawahlunto maupun pelajar Sawahlunto yang menimba ilmu diluar
(dengan tujuan untuk membangun kota sekembalinya dari luar). Dapat kita
lihat saat ini, bahwa kebanyakan acara hiburan yang diadakan di
Sawahlunto hampir 85% pelaksananya adalah pelajar. Itu menggambarkan
bahwa antusias dan kepedulian pelajar besar terhadap perkembangan dan
potensi kota mereka. Disamping itu, program Dinas Pendidikan Kota
Sawahlunto yang setiap tahunnya mengirim pelajar dan pemuda ke luar
negri seperti Malaysia dan Singapore dengan tujuan memperkenalkan budaya
yang ada di Sawahlunto mendapat dukungan penuh dari banyak pihak.
Sebagai imbasnya siswa-siswi luar negeri pun berdatangan mengunjungi
Sawahlunto. Dan ikatan itu dijalin demi terwujudnya visi kota.
Bukanlah suatu hal yang sulit, jika kita ingin mewujudkan impian itu
dengan cepat. Sebab, kesempatan itu akan selalu ada apabila kita mampu
memanfaatkan peluang dengan tepat. Ibarat perhiasan Sawahlunto adalah
bongkahan intan yang masih tenggelam di dalam lumpur yang apabila
berhasil ditemukan sinarnya dapat menjadi energi baru bagi Sumbar.
Sedikit gambaran, di Sawahlunto ada beberapa tempat wisata yang telah
banyak diminati yang diantaranya Kebun Binatang Kandi, Loebang Mbah
Soero, Puncak Polan, Puncak Cemara yang merupakan tempat wisata alam,
Museum Goedang Ransoem dan Museum Kereta Api yang merupakan tempat
wisata sejarahnya, Water Bomm tempat pemandiannya, Lapang Segitiga
aluu-alun sorenya dan lain sebagainya. Hingga saat ini pembangunan terus
dilakukan demi kepuasan dan kenyamanan pengunjung. Dan yang sedang
dinanti oleh masyarakat adalah berdirinya Dream Land sebuah tempat
permainan akbar layaknya Dufan yang ada di Jakarta.
Potensi baru pariwisata yang ada di Sumbar ini adalah investasi mahal
dimasa yang akan datang, yang jika dimanfaatkan dengan baik mampu
menjadikan masyarakat Sawahlunto menjadi masyarakat madani dan membuat
Sumbar menjadi lebih gemilang. Karena keberhasilan menggapai cita-cita
bukanlah impian Sawahlunto lagi, tapi merupakan hak bagi Sawahlunto. Sumber http://kgtk.wordpress.com/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar